sesuatu yang miris saat saya membaca koran hari ini. Pada halaman pertama terdapat sebuah artikel dalam Kompas yang berjudul "Remaja 15 Tahun Dituntut Tujuh Bulan". artikel tersebut menceritakan sebuah anak yang melakukan penjambretan yang berisikan uang Rp 1000 dituntut penjara selama tujuh bulan. hanya 1000 dan seorang anak bahkan dia belum memiliki KTP serta seharusnya belum masuk dalam hukum sudah dikenakan sanksi yang begitu tegas.
dalam artikel tersebut juga disebutkan bahwa anak tersebut tidak sekolah selama tiga bulan karena dalam penahanan. padahal uang yang dicurinya tidak seberapa dibandingkan dengan para koruptor yang telah membuat Indonesia bangkrut. Jika anak tersebut terus menerus tidak sekolah maka dikhawatirkan dia akan tertinggal pelajaran. dilihat dari dampak psikologis anak tersebut pasti akan minder jika bertemu dengan teman-temannya. jika seperti itu maka dikhawatirkan dia akan keluar dari sekolahnya. maka seorang anak bangsa yang menjadi harapan suatu negara sudah hancur masa depannya. jika sudah begitu, mau dibawa kemana bangsa kita? siapa yang akan meneruskan bangsa ini?
ada satu hal juga yang saya sesalkan pada halaman selanjutnya terdapat artikel dengan judul "Terdakwa Korupsi Kembali divonis Bebas di Semarang". hukum macam apa yang ada di Indonesia. orang yang seharusnya dikenakan sanksi malah dibebaskan. sementara rakyat kecil yang hanya seberapa dianggap melakukan kesalahan yang fatal.
jika jawabannya karena hukum itu tidak pandang bulu. seharusnya orang yang berkerah juga dikenakan hukuman yang semestinya bukan? kalau seperti ini hukum itu hanya berat sebelah. jika dilihat pula hukum itu ibarat sebilah pisau. satu sisi tajam dan satu sisi tumpul. pisau tersebut hanya tajam ke arah rakyat kecil. sementara sisi lain tumpul.
saya berfikir, bagaimanakah nasib bangsa ini sekarang? akankah kita menunggu datangnya kehancuran bangsa Indonesia. saya kira tidak. kita bisa bangkit dan memperbaiki sistem yang ada. pemuda indonesia haruslah berkualitas. agar bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu. bangsa kita bangsa yang cerdas. seharusnya belajar dari kesalahan yang ada. jika para pemuda sudah siap untuk memajukan bangsa pasti hal ini tidak akan terulang kembali.
HIDUP MAHASISWA!!
Senin, 09 Januari 2012
dialog dengan pedagang candil
Saya mendapat pengalaman ketika tinggal di kota Bandung. pengalaman ini saya dapatkan ketika saya hendak membeli makanan. Saya berjalan ke arah Darul Tauhid. Di sana memang banyak sekali jajanan. saat itu adzan Ashar berkumandang. banyak orang-orang yang berjalan ke arah masjid untuk menunaikan shalat ashar.
pada saat itu saya sudah memutuskan untuk membeli lumpia basah dan candil. arah kedua jajanan ini memang tidak jauh. ketika saya melihat ke arah jajanan candil penjualnya tidak ada. yang ada hanya gerobaknya saja. dia meninggalkan barang dagangannya di pinggir jalan. saya tunggu beberapa saat sambil membeli lumpia basah.
setelah beberapa menit menunggu akhirnya penjual tersebut muncul juga. saya menghampiri tukang candil tersebut sambil berdialog dengannya.
"mas saya beli dong dua." kata saya.
"iya." kata penjual candil.
"mas-mas tadi shalat dulu ya?" kata saya
"Iya teh." kata penjual candil.
"dagangannya ditinggal?"
"iya ditinggal."
"nanti kalau ada yang ngambil gimana tuh?"
"ya ngga apa-apa ambil aja"
subhanallah! saya benar-benar kagum dengan pedagang candil tersebut. dia benar-benar seorang yang taat kepada agamanya. memang seharusnya sesibuk-sibuknya seseorang ketika saatnya shalat dia memang harus meninggalkan dagangannya.
sekarang ini memang banyak orang yang lebih mementingkan harta dibandingkan dengan agama. jika ditanya, "kenapa ngga shalat, kan sudah adzan?" pasti jawabannya "tanggung, nanti dagangan saya bagaimana."
dari dialog tersebut saya harap bisa mengambil hikmahnya. sesibuk apapun kita, jangan pernah kita meninggalkan shalat ataupun menomor duakan agama. karena dunia ini hanyalah sementara. yang kekal adalah akhirat.
pada saat itu saya sudah memutuskan untuk membeli lumpia basah dan candil. arah kedua jajanan ini memang tidak jauh. ketika saya melihat ke arah jajanan candil penjualnya tidak ada. yang ada hanya gerobaknya saja. dia meninggalkan barang dagangannya di pinggir jalan. saya tunggu beberapa saat sambil membeli lumpia basah.
setelah beberapa menit menunggu akhirnya penjual tersebut muncul juga. saya menghampiri tukang candil tersebut sambil berdialog dengannya.
"mas saya beli dong dua." kata saya.
"iya." kata penjual candil.
"mas-mas tadi shalat dulu ya?" kata saya
"Iya teh." kata penjual candil.
"dagangannya ditinggal?"
"iya ditinggal."
"nanti kalau ada yang ngambil gimana tuh?"
"ya ngga apa-apa ambil aja"
subhanallah! saya benar-benar kagum dengan pedagang candil tersebut. dia benar-benar seorang yang taat kepada agamanya. memang seharusnya sesibuk-sibuknya seseorang ketika saatnya shalat dia memang harus meninggalkan dagangannya.
sekarang ini memang banyak orang yang lebih mementingkan harta dibandingkan dengan agama. jika ditanya, "kenapa ngga shalat, kan sudah adzan?" pasti jawabannya "tanggung, nanti dagangan saya bagaimana."
dari dialog tersebut saya harap bisa mengambil hikmahnya. sesibuk apapun kita, jangan pernah kita meninggalkan shalat ataupun menomor duakan agama. karena dunia ini hanyalah sementara. yang kekal adalah akhirat.
Langganan:
Komentar (Atom)